Cerita tentang awal mula Eky, nama panggilan akrab dari Rizky Ardeva.
Pada saat bertemu di sebuah ruang kelas di Universitas pembangunan jaya, kami menunggu ruang kelas mata kuliah bahasa indonesia di buka pada hari selasa tanggal 28 agustus 2018.
sembari menunggu kelas di buka, kami berbincang pengalaman yang seru saat itu, inilah ceritanya, selamat membaca dan menikmati jalan ceritanya...
Tentang awal mula gue suka sepak bola, sampai gue celaka karenanya.
dulu waktu umur gue 7 tahun gue udah suka sepak bola, padahal sebelumnya gue sama sekali ga suka sama sepak bola, dan kenapa gue bisa suka sama sepak bola, Ton? bahkan gue fanatik banget jadi supporter walaupun cuma di depan layar kaca, hehehe... gini ceritanya Ton:
Jadi sejak kecil gue hidup di keluarga yang ga suka sama sepak bola, tapi ada salah satu keluarga jauh gue yang tinggal di deket rumah gue ya sekitar 100 meter lah dari rumah gue, dia hampir seumuran sama gue, ya ga beda jauh lah usianya, namanya Reza, dia lebih tua 2 tahun dari gue. gue sering main kerumahnya, dia tuh seorang atlit Ton, tiap sore pasti dia main bola di lapangan bola deket rumah gue, dia selalu ngajak gue main bola, padahal gue ga bisa main bola, dia bilang sih cuma buat asik asikan aja, buat cari keringet, setelah sekian lama ikut dia main bola, gue tertarik untuk ikut SSB (sekolah sepak bola) pada usia 13 tahun.
selama ikut ssb, awal mula gue grogi Ton, karena bener bener ga bisa main, sampe sampe gue di "cak-in" gara gara ga bisa main, bahkan ga ada yang mau se-tim sama gue, akhirnya makin hari makin ikut latihan dengan serius, permainan gue mulai berkembang Ton, oh iya nama SSBnya itu SSB SPARTA.
Di umur gue yang ke 16 Tahun, gue berhenti SSB Ton karena bentrok sama jadwal sekolah gue, akhirnya gue memutuskan untuk ga SSB lagi. pada saat itu gue udah SMP, dan pada saat itu ada class meeting, final cabang sepak bola mempertemukan kelas gue (8D) dengan kelas lain yaitu lawan kelas gue (8A), pertandingan berjalan dengan asik dan seru, beberapa menit kemudian salah satu temen gue cetak gol, skor sementara 1 vs 0.
Tempo permainan jadi meningkat Ton, lawan gue kasar semua mainnya, saat gue giring bola ke gawang lawan gue, kaki gue di jegal dari belakang, sontak gue jatoh dengan posisi tangan gue tertekuk. gue teriak "aaahh aduuuhh tolong Pak toloooong!!! tangan saya kecengklak, pataaaahh aaahh!!!", akhirnya guru gue pun langsung memegang tangan gue dan urut, namun tidak berefek apa apa Ton, akhirnya gue langsung di bawa ke tukang urut, kata si mbah "ahh berlebihan kamu, gapapa ini mah, salah urat doang, cengeng!! diem yak!!", sontak tangan gue di plintir oleh si Mbah, gue teriak kaya orang lahiran, Ton. gue nangis, minta tolong bukannya di tolongin malah di ketawain, kacau sih, kapok gue main bola, sampe buat mau main bola lagi pun gue takut Ton, jadi trauma gitu.
Mulai dari situ gue ga main bola sampai tangan gue bener bener sembuh.
ketika udah sembuh, saat ini gue masih main bola Ton di PERSIKAD Depok U-19.
segitu aja sih cerita dari gue hehehe....
Kamis, 30 Agustus 2018
PROFIL
Hallo,
Perkenalkan nama saya Antonius Edhi Hermanto, nama
panggilan saya Anton.
Saya lahir di Jakarta, tanggal 13 Februari 2000.
Saat ini saya tinggal di jalan Swadarma Raya Blok A, Rt. 02 Rw. 09 Pesanggrahan, Jakarta Selatan, Indonesia.
Saya memiliki 7 bersaudara dan saya adalah anak laki laki
terakhir di keluarga saya.
Sejak saya di lahirkan, saya mempunyai keturunan suku Jawa
dari kedua orang tua saya, Ayah saya lahir di kabupaten Magelang (Jawa Tengah)
dan Ibu saya lahir di kabupaten Kudus (Jawa Tengah), begitu pula dengan
keyakinan yang saya yakini dan imani yaitu Katolik.
Kegiatan saya saat ini adalah Kuliah. Saya adalah mahasiswa di salah satu kampus ternama di Indonesia di bawah naungan Jaya Grup, yaitu UNIVERSITAS PEMBANGUNAN JAYA. Saat ini saya baru memasuki semester 1 dengan mengikuti fakultas Desain Komunikasi Visual (DKV).
Saya mempunyai cita cita yang cukup banyak, dalam hidup ini kita di tuntut harus memiliki cita cita.
Cita cita saya yang pertama adalah menjadi seorang atlet
bulutangkis professional.
Cita cita saya yang kedua adalah menjadi seorang atlet sepak
bola professional.
Cita cita saya yang ketiga adalah menjadi seorang Guru
olahraga/multimedia/bimbingan konseling/Pendidikan Kewarganegaraan.
Menjadi seorang atlet adalah impian saya sejak kecil, ingin rasanya mengharumkan nama bangsa Indonesia di kancah internasional agar Negara lain pun tahu, bahwa kami bangsa Indonesia adalah Negara yang besar, memiliki prestasi yang tidak kalah dengan Negara lain. Namun dengan seiring perubahan waktu, saya juga tertarik menjadi guru agar dapat mengajarkan anak anak Indonesia menjadi pintar, cerdas, disiplin, penuh tanggung jawab, memiliki etika yang baik (sopan santun), bersikap toleransi terhadap sesama makhluk hidup, serta membangun jiwa nasionalisme agar menjadi manusia JAYA.
Jenjang karir pendidikan saya sebelum kuliah di Universitas Pembangunan Jaya, saya bersekolah di SDN 04 Pesanggrahan, SMPN 267 Jakarta, dan selanjutnya di SMK Kartika X-2 Jakarta dengan jurusan Multimedia.
Perjalanan saya kuliah di Universitas Pembangunan Jaya cukup
sulit, karena saya kuliah melalui jalur beasiswa. Kebetulan di Gereja Santo
Matius ada program ASAK (Ayo Sekolah Ayo Kuliah), sebuah peluang yang besar
untuk kuliah dengan biaya ringan, akhirnya saya berjuang untuk mendapatkan
beasiswa tersebut, dan akhirnya Puji Tuhan! Saya mendapatkan beasiswa tersebut,
akhirnya pada tanggal 27 agustus 2018, dimulai lah perjalanan hidup saya
selanjutnya untuk menata masa depan.
Saya memiliki kegemaran olahraga yang luar biasa, di mulai dari bulutangkis, sepak bola, lari santai, lari cepat, berenang, bela diri silat, dan juga bersepeda.
Makanan kesukaan saya adalah mie goreng buatan ibu saya,
masakan beliau adalah masakan yang paling enak terbaik di dunia, dan minuman
kesukaan saya adalah es teh manis.
Saat ini saya tinggal di rumah bersama Ayah, Ibu, dan juga Kakak saya.
Saya adalah tipikal pribadi yang introvert, Tidak terlalu suka keramaian. Tempat yang paling saya sukai ketika saya membutuhkan ketenangan untuk berlibur adalah di Gunung Semeru, selain di Gunung, juga di Pantai Ayah yang ada di salah satu kabupaten Jawa Tengah.
Di atas Gunung saya merasakan ketenangan, keindahan alam
yang luar biasa, menikmati indahnya ciptaan Tuhan yang megah, anginnya yang
bertiup dari segala arah secara bergantian, hembusan angin dan dinginnya suhu
di sana dapat memberikan efek yang luar biasa dalam diri ini, dan juga hamparan
awan yang bagaikan lautan yang menakjubkan mengingatkan saya pada Sang Pencipta
bahwa dunia ini, alam ini harus kita jaga bersama.
Begitupula dengan pantai, saya sangat suka pantai, selain
pemandangannya yang indah, pantai dapat memberikan saya ketenangan. Lagi, angin
yang berhembus secara perlahan dan suara gemuruh air pantai yang megah, dapat
menenangkan jiwa ini.
Selain suka dengan alam, saya juga suka mendengarkan musik, terutama dengan suara instrumental gitar, piano dan juga biola.
Tema musik atau lagu yang saya sukai adalah EDM dan juga
Akustik.
Untuk musik EDM, saya penggemar dari Martin Garrix,
Hardwell, Avicii, & Weird Genius.
Dan selanjutnya, hal yang paling saya tidak sukai adalah ketika saya merasakan kehilangan harga diri saya, merasa tidak di hargai serta mencoreng nama baik saya di depan umum.
Bersikap seenaknya kepada keluarga saya juga salah satu hal
yang tidak saya sukai, terutama kepada Ibu saya. Karena Ibu saya adalah anugrah
terindah yang saya miliki.
Saya bukan tipikal orang yang suka di atur, karena saya memiliki kehidupan sendiri, saya tahu bagaimana caranya bertindak dengan baik dan sopan, ketika ada seseorang atau sesuatu yang mengusik atau mengganggu kehidupan saya, maka saya tidak akan segan untuk menyelesaikannya dengan bijak.
Dalam hidup ini saya memiliki motto hidup, yaitu “Mati di tindas, atau bangkit melawan!” , Semboyan tersebut selalu melekat di hidup saya seperti “Merdeka atau Mati!”, semboyan yang pernah di ucapkan oleh salah satu pahlawan bangsa Indonesia, Bung Tomo.
Jiwa nasionalisme sudah melekat di hidup saya, pada saat
umur saya 8 Tahun, ketika alm. Eyang
saya mengatakan bahwa “jaga negeri ini nak, kami semua telah mengorbankan darah
kami, keringat kami, nyawa kami demi bangsa Indonesia agar merdeka dari
penjajahan, apapun alasannya, apapun resikonya, pertahankanlah kedaulatan
kemerdekaan NKRI ini sampai nanti, karena kamu adalah salah satu penerus bangsa
ini. bangsa ini adalah bangsa yang besar!”. Teringat sangat ketika beliau
berbicara seperti itu, beliau selalu mengucapkan motivasi agar saya selalu
semangat untuk hidup agar tidak di jajah oleh teknologi yang semakin
“menggila”.
Ketika upacara bendera dan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, entah mengapa saya selalu meneteskan air mata. Mungkin karena memang saya selalu mengingat perjuangan para pejuang kemerdekaan untuk memerdekakan bangsa ini.
Ketika di Tanya soal cita cita oleh Guru saya sewaktu saya di sekolah, saya selalu menjawab ingin menjadi Pemimpin besar dalam negeri ini.
Entah itu menjadi Presiden, wakil presiden, Gubernur. Atau
bahkan menjadi wali kota, menteri pendidikan dan menteri olahraga (selain cita
cita di bagian awal). Sebagian teman saya yang mendengar impian saya
menertawakan saya, mereka piker impian saya terlalu tinggi, namun saya berpikir
bahwa cara pandang mereka terlalu rendah karena menertawakan saya.
Saya tipikal orang yang kritis, berani mengambil resiko, berpikir cepat dalam mengambil keputusan, bertanggung jawab dan dapat di percaya.
Saya adalah pendengar yang baik, tidak heran jika saya memiliki teman yang cukup banyak dan dapat di jadikan sahabat yang baik.
Saya juga tipikal orang yang mudah “baper”, terlalu sensitif dalam perkataan orang, karena apa yang
saya dengar, apa yang saya rasakan, saya selalu mengguanakan perasaan dan akal pikir saya sebagai manusia normal pada umumnya.
Ketika saya marah, hal pertama yang saya lakukan adalah diam. Dan ketika saya semakin di buat marah, saya selalu menggunakan akal sehat saya terlebih dulu untuk mengatasinya, dan ketika saya semakin di buat marah maka fisik saya yang akan mengatasinya.
Sikap sombong, acuh, dengki adalah sikap yang sangat sangat saya tidak suka, ketika ada seseorang yang berbicara kepada saya dan mengatakan saya adalah orang yang sombong maka saya langsung berintropeksi diri dimana rasa sombong itu, jika itu membuatnya terasa rishi maka saya meminta maaf.
Kata “maaf” dan “terima kasih” adalah hal yang sangat penting dalam hidup ini, kalimat yang sederhana, bahkan sangat sangat sederhana, namun banyak orang yang ragu, takut, bahkan malu dalam mengucapkannya, padahal dalam 2 kalimat tersebut dapat menyelesaikan masalah. Efeknya sangat luar biasa, apalagi jika 2 kata tersebut di sampaikan dengan niat yang tulus dari hati.
Ini adalah profil yang saya buat dengan sebenar benarnya, saya harap jika memang ada kalimat yang kurang berkenan di hati kalian bagi para pembaca, saya mohon maaf.
Salam kenal dari saya, Antonius Edhi Hermanto, semoga perkenalan diri ini dapat bermanfaat bagi kalian wahai para pembaca yang terhormat, saya ucapkan terima kasih dan sekali lagi maaf jika kalimat yang saya gunakan kurang sopan.
Langganan:
Postingan (Atom)